291 Views

Pesan Persatuan dalam Perayaan Kemerdekaan

voiceofummah.net – Gegap gempita menyambut perayaan kemerdekaan yang pada tahun ini genap berusia 72 tahun mulai terasa sejak awal Agustus. Penjual bendera dan umbul-umbul bersuka cita menyambut panen raya penjualan yang tak seperti biasanya. Begitu juga para penjual bambu dan tongkat. Bahkan, tidak sedikit orang yang menjadi penjual dadakan, demi meraup pundi-pundi keuntungan.

Masyarakat pun tak kalah sibuk mempersiapkan dan menghiasi lingkungan kampungnya agar suasana kemerdekaan semakin semarak. Gapura, pohon, pagar, jalan seluruhnyaya dicat ulang supaya tampak menarik dan segar. Semua aksesoris yang umumnya bernuansa merah-putih itu dikibarkan dengan gagah di halaman rumah, jalan kampung, ataupun jalan raya. Begitu juga berbagai perlombaan juga tak kalah meriah digelar di RW di hampir setiap kampung-kampung.

Hal yang paling menakjubkan dari perayaan dirgarahayu Indonesia bukan pada semarak pesta kemerdekaannya, tapi pada kebersamaan, rasa saling  membutuhkan yang terasa lebih hangat khusus di bulan Agustus. Pesta raya Indonesia sendiri dari tahun ke tahun tak pernah ada yang berubah. Pengibaran bendera, upacara peringatan detik-detik proklamasi, bersih-bersih kampung, perlombaan hingga tirakatan menjadi ritual yang wajib dilaksanakan. Seolah tak lengkap jika momen kemerdekaan tanpa adanya ritual tersebut.

Tanpa adanya tekanan atau paksaan, dengan sukarela warga meluangkan waktu, mengeluarkan uang dan tenaga untuk mempersiapkan detik-detik peringatan HUT kemerdekaan dengan penuh suka cita. Tak ada perselisihan apalagi kekerasan semua sepakat momen terbaik untuk peringatan peristiwa bersejarah tersebut mesti meriah. Keberadaan multikulturalisme, pluralisme tampak tak pernah menjadi masalah. Jawa, Sunda, Dayak atau Islam, Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu atau desa, kota, petani, nelayan, guru, hingga pejabat bersatu mempersiapkan selebrasi yang meriah.

Meski kini ada beberapa pihak yang mulai mengkritik ritus komunal yang hanya mengedepankan hura-hura dan simbolik. Namun realitasnya masyarakat umum masih saja tetap melakukannya. Dari semua bentuk formalitas tersebut jangan lupa ada pelajaran berharga yang hanya pada bukan Agustus terjadi, yaitu kesadaran untuk bersatu padu dengan satu visi dan misi seperti halnya pada masa pra kemerdekaan. Pada saat itu keberagaman benar-benar menjadi warna yang indah yang tidak pernah dipisahkan oleh apapun termasuk kesukuan.

Kesadaran dari diri setiap individu merupakan kunci penting untuk membawa Indonesia pada jalan kedamaian sejati. Tanpa kesadaran ini, kita hanya mampu membangun jalan damai semu yang ketika ada percik api kecil, dengan mudahnya membakar rasa persatuan dan kesatuan serta meruntuhkan kerjasama yang telah terbangun.

Kita semua paham bahwa pelangi indah karena keragaman warna. Lukisan menakjubkan juga karena keragaman warna bahkan selebrasi kemerdekaan meriah juga karena keberagaman warna dekor yang digunakan. Permasalahannya adalah pemahaman kita belum berkembang menjadi kesadaran dalam setiap hembusan nafas kita. Pemahaman kita sering menghilang dan datang tergantung pada momen. Pada bulan Agustus pemahaman kita mampu menjelma pada kesadaran karena keterikatan momen kemerdekaan.

Kesadaran akan keterikatan yang kuat pada bulan kemerdekaan ini sejatinya dapat kita manfaatkan untuk membangkitkan semangat nasionalisme, mengelorakan persatuan dengan aksi yang lebih ramah lingkungan dan berjiwa sosial, sehingga bisa dijadikan patokan untuk mengisi kemerdekaan tentunya dengan berbagai kegiatan yang tak hanya simbol formal semata.

Aksi 171717 yang digagas Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo akan berlangsung serentak di seluruh Indonesia pada Kamis (17/8/2017) pukul 17.00 WIB merupakan aksi doa bersama lintas agama. Kegiatan ini akan melibatkan aparat TNI, Polisi dan seluruh elemen mulai dari hafiz Al Quran, ulama dan muspida dan masyarakat umum. Tujuannya sebagai warga negara yang Pancasilais ini bentuk perwujudan sila pertama yaitu ketuhanan Yang Maha Esa’

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga sebagai wujud rasa syukur masyarakat Indonesia yang telah merdeka selama 72 tahun. Sekaligus penghormatan terhadap para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ini juga sebagai momentum mempertahankan keutuhan NKRI sebagai bentuk perjuangan di masa sekarang. Kemerdekaan ini diraih dengan tumpah darah para pahlawan, kegiatan ini juga sebagai bentuk perlawanan terhadap segala ancaman nyata berupa narkoba, disintegrasi bangsa dan kabar bohong yang bisa memecah belah keutuhan NKRI.

Dengan memanfaatkan keterikatan momen Agustusan ini tentunya sangat mungkin jika selebrasi hura-hura perlahan digeser dengan sikap kepedulian terhadap sesama sehingga pemerataan dan keadilan dalam pembangunan mampu terwujud. Harapannya dengan memanfaatkan bulan kebanggaan ini mampu menumbuhkan kesadaran atas dasar keterikatan serta menjadi langkah awal untuk membiasakan keterikatan terhadap sesama saudara untuk saling berkerja sama dan berbagi untuk mensukseskan pembangunan negeri.

Write a Reply or Comment