395 Views

Lawan Radikalisme di Medsos

Berbicara sosial media atau media sosial sekarang ini memang sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat, hampir tiap individu menggunakan media sosial dari yang muda hingga yang tua baik untuk berbinis maupun hanya sebatas terhubung dengan teman. Dengan adanya sosial media memang sangatlah membantu kita dalam berhubungan dengan orang lain, baik teman maupun saudara. Namun di dalam kemudahan itu juga terdapat dampak negatif yang dapat mempengarihi diri anda. SepertiĀ  yang sengaja digunakan oleh para teroris di dunia dan juga Indonesia.

Untuk itu mari kita jadikan tahun 2017 sebagai tahun perlawanan orang-orang baik yang tadinya diam, karena media sosial adalah medan pertempuran, dan diam sudah bukan pilihan. Mari lakukan sesuatu untuk melawan Radikalisme di dunia maya dengan langkah sebagai berikut:

  1. Share, Share dan Share. Klik tombol share sebisa mungkin pada setiap berita positif, tulisan kritis, meme dan lain-lain. Pegang prinsip “syarat kezaliman untuk menang adalah orang baik diam”. Jadi saat Anda ragu menshare, radikalisme telah menang.
  2. Unfriend/ Block! Salah satu alasan orang baik ragu menshare status positif adalah karena ingin menghindari cekcok dengan kawan. Orang yang memusuhi Anda atas status positif Anda, artinya ia bukan kawan anda. Jangan ragu unfriend/block bila Anda tidak suka berdebat.
  3. Turn Back Hoax. kenapa Indonesia darurat hoax? Ya karena penyebar hoax sadar akan filosofi “kebohongan bila dilakukan secara massif, lama-lama akan dianggap kebenaran”. Hoax yang dishare puluhan ribu bisa mempengaruhi orang. Lawan ini dengan share klarifikasi hoax sebanyak-banyaknya
  4. Ramaikan Tagar Twitter. Bagi pemilik akun twitter, untuk bantu mencuitkan TAGAR (Hashtag) yang nantinya diberikan melalui page ini Karena tagar twitter sering terbukti mampu menggerakkan media, jadi headline berita media.
  5. Copas dan Lempar. Saat Anda membaca tulisan bagus dari pegiat medsos seperti Denny Siregar, Kang Hasan, Prof. Sumanto dan lainnya. Kali ini tak cukup hanya kasih jempol dan klik share saja. Copas juga, lalu lempar di grup WA. Broadcast WA/BBM terbukti bisa mempengaruhi massa.
  6. Bikin Grup Chat. Bersama kawan-kawan sepemikiran, bikin grup chat WA/BBM, lalu pantau topik yang sedang viral/ trending di media sosial. Gerakkan kawan-kawan untuk laporkan massal status intoleran di facebook, twitter, IG, dll. Tanya kawan yang mengerti cara melaporkan.
  7. Jangan diam! Media sosial terbukti punya pengaruh mengerikan bila disalah gunakan untuk tujuan-tujuan tidak baik. Diam anda bisa dibayar mahal oleh bangsa. Maka jangan diam.. Lakukan sesuatu! Share, copas tulisan, broadcast di grup WA/BBM, laporkan massal

Ingat, kenapa postingan hoax dan hasutan SARA sering dishare sampai ribuan? Karena kelompok radikal paham akan filosofi “kebohongan bila dilakukan secara massif, lama-lama akan dianggap kebenaran”.
Beredarnya poster ajakan aksi 21 Februari 2017 yang telah berlalu atau aksi 212 Jilid 2 memuat foto Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di media sosial. Seolah-olah ada kesan Gatot Nurmantyo punya peran di aksi itu adalah contoh nyata atas berita hoax.

Ada juga Kasus Equil dan Sari Roti adalah bukti suksesnya penerapan filosofi ini. Orang dibuat percaya air mineral Equil adalah “miras”. Massa pun mampu digerakkan untuk boikot Sari Roti. Kini waktunya untuk orang baik melawan. radikalisme di media sosial. Anda, saya, kita semua warga dunia maya facebook, twitter, IG, dst..
Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau tidak sekarang kapan lagi? Mari kita Lawan hoax! Karena hoax adalah Radikalisme. Karena hoax adalah Terorisme. Agar NKRI tetap terjaga.

Write a Reply or Comment