57 Views

“Boikot” Media Sosial Amerika oleh FPI

 

Front Pembela Islam (FPI) yang akan mengalihkan penggunaan media sosialnya seperti facebook, whatsapp dan google, bukan lagi isapan jempol belaka. Sekjen DPD FPI DKI Jakarta, Novel Bamukmin menyatakan  pihaknya sudah menemukan aplikasi media sosial yakni Geevv, Callind, dan Redaksitime yang dianggapnya sebagai aplikasi buatan indonesia yang patut untuk dicintai untuk kebangkitan Bangsa Indonesia. Bahkan Novelpun meminta agar kepada seluruh anggota FPI dan alumni 212 untuk beralih menggunakan ketiga aplikasi  karena menurutnya Facebook tidak berpihak kepada perjuangan umat Islam dengan banyaknya akun anggota FPI dan pentolan 212 yang diblokir.

Sebagai organisasi massa yang besar dengan pengikut fanatik, tentunya imbauan tersebut akan mudah untuk dilaksanakan. Dan secara tidak langsung aksi menggunakan aplikasi anak negeri ini sebagai aksi “boikot” terhadap produk Amerika.

Penggunaan aplikasi media sosial saat ini bukan lagi hanya digunakan  sebagai ajang untuk mencari teman belaka, media sosial sekarang telah beralih dari sekedar hanya untuk berinteraksi berubah menjadi fungsi hiburan, ekonomi, dahwah bahkan sampai ranah politkpun media sosial ini digunakan.Ujaran-ujaran kebencian, perjudian, pornografi, dan saat ini masalah LGBTpun mewarnai konten-konten media sosial.  Lebih bahaya lagi  saat ini banyak instansi pemerintah maupun  swasta  yang dengan mudahnya melempar informasi penting  ke Media Sosial tanpa takut informasi tersebut nantinya digunakan oleh pihak lain untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Lalu siapa lagi yang diuntungkan dari penggunaan media  sosial ini? . Tentunya tidak lain adalah penyedia layanan ini, mereka dengan mudah mendapatkan informasi,  baik itu yang bersifat pribadi sampai dengan urusan suatu negara melalui servernya. Dengan informasi yang didapat itu mereka akan tahu pribadi seseorang dan bahkan mengetahui  situasi suatu negara.

Kembali lagi ke FPI, dengan mengalihkan  penggunaan media sosial buatan amerika tersebut, setidaknya FPI menyadari bahwa apa yang mereka lakukan dimedia sosial selama ini adalah hanya untuk menguntungkan pihak amerika saja. FPI juga sadar apapun informasi yang mereka sebarkan melalui media sosial tidak lagi memberikan nilai positif bagi perjuangan FPI, hal ini  terbukti dengan banyaknya akun FPI yang diblokir oleh pihak Facebook. Tidak menutup kemungkinan FPI juga akan mengembangkan aplikasi media sosial yang sulit untuk bisa diakses oleh pihak lain kecuali bagi mereka yang sudah jelas merupakan anggota organisasi FPI sebagai media perjuangan dan dahwah FPI sendiri.

Keinginan FPI lepas dari pengaruh facebook, whatapps dan  Google yang kemudian menggunakan aplikasi media sosial milik anak negeri. Membuktikan pengaruh media sosial masih menjadi senjata utama bagi perjuangan FPI kedepan. Pemerintah dalam hal ini Kemenkoinfo harus tetap menjadi badan pengawas dinegeri ini untuk tetap memonitor penggunaan media sosial, agar tidak digunakan untuk menjatuhkan kedaulatan bangsa ini sesuai dengan hukum yang berlaku. Apalagi mendekati pesta demokrasi ditahun 2018 ini kemungkinan membawa SARA dalam ajang Pilkada masih sangat tinggi. Sebagai warga masyarakat kitapun harus lebih bijak dan memahami informasi-informasi yang kita dapat, apakah layak untuk kita kosumsi atau tidak, sehingga kita tidak terjebak dari pengaruh negatif penggunaan media sosial yang akan membawa kita keranah hukum nantinya.

 

Write a Reply or Comment