233 Views

Agama Bukan Alat Politik

Voiceofummah.net – Sejarah mencatat, tokoh, komunitas dan institusi keagamaan bisa berperan menjadi penjaga moral masyarakat serta pengkritik kekuasaan yang garang. Demikian pula dengan agama, bisa menjadi sumber energi luar biasa untuk melakukan perlawanan terhadap rezim korup dan despotik.

Hubungan agama dan politik selalu heboh. Ajaran agama menekankan keimanan, ritual peribadatan dan moralitas. Adapun politik menekankan aturan main yang mengarah pada perebutan dan pembagian kekuasaan dalam konteks kehidupan bernegara.

Kedua aspek itu pada praktiknya saling memengaruhi, bahkan tak terpisahkan. Terlebih dalam ajaran dan sejarah Islam, agama dan politik sejak masa Rasulullah sampai sekarang senantiasa menyatu. Dapat dikatakan bahwa politik berbuah dari hasil pemikiran agama agar tercipta kehidupan yang harmonis dan tentram dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini disebabkan, pertama, oleh sikap dan keyakinan bahwa seluruh aktifitas manusia, tidak terkecuali politik, harus dijiwai oleh ajaran-ajaran agama. Kedua, disebabkan oleh fakta bahwa kegiatan manusia yang paling banyak membutuhkan legitimasi adalah bidang politik dan hanya agamalah yang dipercayai mampu memberikan legitimasi yang paling meyakinkan karena sifat dan sumbernya yang transcendent.

Konflik dan perseteruan antarsesama dinasti Islam tak pernah surut, bahkan sampai hari ini. Yang terjadi adalah kepentingan politik yang dibumbui dan dicarikan legitimasinya pada agama.

Di Indonesia saat ini tengah heboh menghadapi pilkada. Berbagai ayat kitab suci pun dimunculkan untuk mendukung atau menolak calon. Terlalu mulia kalau martabat agama dan kitab suci dimanfaatkan dengan harga dan cara terlalu murah dan vulgar, agama seharusnya menjadi peradaban manusia di segala bidang, bukan hanya sebagai alat kepentingan politik.

Ada anggapan bahwa agama harus mandiri dan tidak berfungsi sebagai kekuasaan. Dalam hal ini biasanya pemimpin agama menempatkan agama pada konteks yang tidak terlalu luas sehingga dapat dikatakan agama menjadi sebuah simbol dan kepercayaan tanpa harus ikut terlibat dalam kehidupan pemerintahan maupun bernegara. Namun dalam konsepsi sebagian besar masyarakat Indonesia, kehidupan politik juga seharusnya dilandasi oleh nilai-nilai agama. Konsepsi ini memang menghadirkan sisi positif akan tetapi perlu dipahami, jangan sampai para pemimpin agama terlibat dalam politik praktis, karena jika sampai hal ini terjadi maka akan menimbulkan keresahan di masyarakat dan umat beragama seperti yang terjadi pada momen Pilkada beberapa waktu lalu.

Write a Reply or Comment